Selama beberapa dekade, skenario dua orang asing bertemu di bar, minum koktail bersama, lalu menghabiskan malam singkat berdua dianggap sebagai bumbu lumrah dalam dunia kencan. Bagi sebagian orang, hubungan cinta satu malam atau one night stand bahkan dipandang sebagai “ritual pendewasaan” dalam fase penjelajahan cinta dan seksualitas.
Namun, tren tersebut kini mulai bergeser.
Laporan terbaru dari platform kesehatan seksual Lovehoney menunjukkan bahwa hubungan kasual tanpa ikatan ini perlahan mulai punah. Generasi muda, khususnya Gen Z, kini lebih memilih untuk memprioritaskan hubungan yang memiliki kedalaman emosional dan makna yang jelas.
Dipicu Biaya Hidup hingga Redupnya Dunia Malam
Menurut Elisabeth Neumann, pakar seksologi sekaligus kepala tim penelitian Lovehoney, pergeseran minat Gen Z ini dipicu oleh banyak faktor. Beberapa di antaranya adalah rasa jenuh terhadap aplikasi kencan (dating apps fatigue), redupnya aktivitas dunia malam (nightlife), hingga tekanan beban biaya hidup yang semakin tinggi.
“Lebih dari seperempat tempat hiburan malam telah tutup sejak tahun 2020. Hal ini mengubah cara anak muda mengonsumsi alkohol dan menghabiskan waktu malam mereka,” ujar Neumann.
Data penelitian mendukung hal tersebut. Hanya sekitar 50% anak muda usia 18–24 tahun yang mengaku pernah berhubungan seks dalam kondisi mabuk. Angka ini jauh lebih rendah dibanding kelompok usia 25–34 tahun (hampir 70%) dan usia 35–44 tahun (hampir 75%).
Tanpa adanya pengaruh alkohol dan ruang sosial yang mendukung pertemuan singkat, one night stand kehilangan daya tariknya.
Selain itu, krisis biaya hidup memaksa banyak anak muda untuk tetap tinggal bersama orang tua. Faktor domestik ini secara otomatis memangkas ruang gerak mereka untuk menjalani hubungan kasual.
Data menunjukkan bahwa 77% anak muda yang masih tinggal bersama orang tua menegaskan bahwa mereka tidak akan membawa pasangan cinta satu malam mereka ke rumah.
Gen Z Lebih Selektif dan Punya Tujuan
“Gen Z bukan menolak keintiman. Mereka hanya mendekatinya dengan lebih terarah, memberikan makna yang lebih mendalam pada seks, dan mencari ikatan dengan cara mereka sendiri,” kata Neumann.
Pendekatan baru yang lebih selektif ini membuat generasi muda saat ini lebih jarang berhubungan seks dibanding generasi di atas mereka. Warga Australia berusia 46–61 tahun (Generasi X) rata-rata berhubungan seks 62 kali per tahun. Angka tersebut hampir dua kali lipat dari frekuensi Gen Z yang hanya 36 kali per tahun.
Lelah Main Dating Apps dan Mulai Curhat ke AI
Teknologi kecerdasan buatan (AI) dan aplikasi kencan juga mengubah cara anak muda membangun hubungan. Meskipun 30% Gen Z dan 35% Milenial masih aktif menggunakan dating apps, sebanyak 78% dari mereka mengaku lelah dan sinis karena harus terus-menerus menggeser layar (swiping) demi mencari pasangan yang cocok.
“Keintiman di dunia digital, mulai dari pesan nakal (sexting) hingga aplikasi kencan, bisa mengikis pengalaman interaksi langsung di dunia nyata, dan membuat manusia terasa makin berjarak,” Neumann memperingatkan.
Sisi unik lainnya, hampir separuh dari Gen Z dan Milenial mengaku pernah berkonsultasi dengan AI mengenai asmara atau kehidupan seks mereka. Bahkan, 32% di antaranya lebih memilih bertanya kepada chatbot ketimbang curhat ke teman sendiri.
“Jika dulu Anda menghabiskan waktu berjam-jam membedah isi chat gebetan bersama teman-teman, sekarang AI bisa memberikan analisis dan jawaban instan,” tulis laporan tersebut.
Kembalinya Tren Tradd-Dating dan Komunitas Riil
Ketika aplikasi kencan mulai menjemukan dan biaya hidup membatasi ruang gerak, bagaimana cara anak muda sekarang mencari pasangan?
Laporan Lovehoney menemukan bahwa metode pertemuan langsung (offline) kini mulai dilirik kembali. Seperempat dari generasi Milenial yang disurvei mengaku menemukan pasangan hidup mereka di tempat kerja.
Selain itu, aktivitas sosial berbasis komunitas kini sedang menjamur di kota-kota besar. Mulai dari klub lari (running club) khusus jomblo, acara speed dating (kencan kilat), hingga ruang diskusi komunitas menjadi wadah baru untuk saling mengenal.
Para ahli menyimpulkan bahwa meski lanskap kencan modern makin kompleks akibat gempuran teknologi, aplikasi kencan dan AI tetap tidak akan pernah bisa menggantikan kebutuhan mendasar manusia: koneksi nyata dan keintiman emosional di dunia riil.