Aktris film dewasa Japan Adult Video (JAV) Riko Hoshino memperingatkan bahaya penyalahgunaan kecerdasan buatan atau AI yang mampu membuat konten seksual palsu hanya bermodal satu foto seseorang. Ia menilai praktik deepfake semacam itu merupakan pelanggaran serius terhadap privasi dan hak individu.
Dilansir Nikkan Sports, Jumat, (28/06/2026) Hoshino menyampaikan peringatan tersebut melalui akun X setelah mengutip artikel mengenai layanan AI yang dapat menghasilkan video seksual dari satu foto. Ia juga menyoroti belum adanya aturan yang secara khusus mampu menindak praktik tersebut.
Hoshino menilai kemunculan layanan semacam itu membuat batas antara performer profesional dan masyarakat umum semakin mudah dilanggar. Menurut dia, seseorang yang tidak pernah terlibat dalam industri film dewasa tetap dapat menjadi korban apabila wajahnya digunakan tanpa izin untuk membuat konten seksual palsu.
Ia juga menyinggung posisi aktris AV yang selama ini bekerja secara profesional meski kerap mendapat stigma. Namun perkembangan AI, menurut Hoshino, membuat wajah siapa pun kini dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kepentingan seksual orang lain tanpa persetujuan pemilik identitas.
Hoshino kemudian meminta para penikmat konten dewasa tetap menjaga etika dan menghormati orang lain. Ia menilai ketertarikan terhadap konten seksual tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan privasi, persetujuan, maupun martabat seseorang.
Unggah Ilustrasi “Your Desire. My Face”
Selain menyampaikan pernyataan melalui X, Hoshino mengunggah ilustrasi berjudul “Your Desire. My Face”. Ia menjelaskan gambar tersebut dibuat sebagai bentuk kecaman terhadap penggunaan AI untuk menghasilkan konten AV menggunakan wajah orang lain.
Hoshino menegaskan bahwa setiap perempuan maupun laki-laki memiliki hak atas privasi dan tidak boleh menjadi korban penyalahgunaan identitas. Ia juga menolak anggapan bahwa pembuatan konten seksual palsu hanya merupakan keisengan atau candaan.
Menurut Hoshino, tindakan tersebut harus dipandang sebagai bentuk kejahatan karena dapat meninggalkan dampak psikologis panjang kepada korban. Ia menilai orang yang identitasnya disalahgunakan bisa mengalami luka emosional yang bertahan sangat lama.
Hoshino juga meminta publik tidak melihat persoalan deepfake AI hanya sebagai masalah perempuan atau aktris film dewasa. Menurut dia, siapa pun dapat menjadi korban selama wajah atau foto mereka tersedia dan dapat diproses menggunakan teknologi generatif.
Soroti Risiko Foto Disalahgunakan
Peringatan Hoshino muncul di tengah meningkatnya kemampuan AI generatif dalam memanipulasi wajah dan menciptakan gambar maupun video yang semakin realistis. Dalam kasus yang disorotnya, sebuah layanan disebut dapat membuat video seksual hanya dengan menjadikan satu foto sebagai materi awal.
Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran karena foto profil, unggahan media sosial, maupun gambar lain yang beredar di internet berpotensi dimanfaatkan tanpa izin. Risiko menjadi lebih besar apabila hasil manipulasi kemudian disebarluaskan atau diperjualbelikan secara daring.
Hoshino menilai persoalan ini membutuhkan perhatian lebih luas karena dampaknya tidak berhenti pada persoalan teknologi. Penyalahgunaan wajah dalam konten seksual dapat menyentuh reputasi, kehidupan pribadi, hingga kondisi psikologis korban.
Ia kemudian mengajak masyarakat ikut menyuarakan perlunya penindakan terhadap penyalahgunaan AI untuk membuat konten seksual palsu. Menurut Hoshino, persoalan tersebut tidak boleh dianggap hanya sebagai isu kelompok tertentu karena berpotensi menyasar siapa saja.